soal kecinaan

28 01 2009

Catatan awal: ini tulisan jadi ada setelah kepancing sama Mbak Titut yang bagi-bagi angpao berisi ulasan pengalaman Chinese identity concealment di masa lalu [plus kritik kalau kebebasannya tetap aja nggak ngaruh selama mutual respectness belum bisa jalan]. Buat Mbak Titut: Mbak, tentu aja ini versinya beda, ini versi anak kecil yang bedanya sampe 8 tahunan dari Mbak, yang waktu kerusuhan ‘98 masih 1 SMP… kalo Mbak kan waktu itu udah kuliah ya Mbak?

Semenjak teman-teman SD di Aljaks tau aku pindahan dari Hongkong, terusnya liat nyokap kuning sipit nan tercinta ada di sekolah buat ngambil rapor dan urusan-urusan sejenis, plus kemudian tau akunya juga lahir di Taipei, aku jadi selalu dicap Cina dong. Padahal kejadian lahir di sana itu ya numpang doang, dan di Hongkong itu juga sekolah Indonesia; dua-duanya bisa terjadi karena tugas ke-PNS-an bokap. Oia, itu masih zaman Pak Harto jadi RI-1. Kayaknya sih waktu itu reaksiku paling nengok dengan ekspresi ngomong qiguai lantas melengos EGP. Tapi kalo terusnya mereka pada bilang kalo nyokap Cina Taiwan asli dari lahir, aku protes ngomel-ngomel. Abis ngaconya kebangetan sih. Bokap gua PNS gitu, mana boleh punya isteri orang asing [eh boleh nggak sih?] Lagian sori aja, keluarga kita yang Cina udah beranak-pinak di Jawa jauh sebelum Proklamasi sampe pada lebih ngerti bahasa Jawa daripada bahasa Cina. [eh, sepakat dulu yaa entry point-nya bahasa]

Yang kuhadapi waktu itu adalah kebingungan anak-anak Aljaks yang ngerasa aneh ada Cina di Al-Azhar, beberapa gelintir pula. Aku sih suka miris aja ngeliat teman Cina lain yang dicela Cina [salah satu yang kuinget nama belakangnya beneran Tanugraha dong]. Aku masih lumayan selamat dari celaan, perhaps should thank to nilai rapor gua yang waktu itu suka dianggap “mengancam” sama mereka. Tapi dapet juga cerita dari bokap waktu teman kantornya nanya tentang aku ke keponakannya yang ternyata adalah si Arya. Jadi pas si Arya ditanya itu, dia jawab, “Intan? Tau, tau, tau… Cina tuh Om. Tapi Muslim… tapi pinter… tapi… Cina… tapi…” ah pokoknya panjang deh. My point is jawaban pertamanya itu “Cina”. Nyet! [Beberapa bulan lalu aku cerita ke Arya kalo dulu diceritain bokap sekantor sama Omnya dia lantas si Om nanyain Arya soal aku. Aryanya katanya lupa, tapi dia kaget dan ngakak denger jawaban dia sendiri, dan keliatannya sih percaya kalo dulu dia jawab kayak gitu. Ngaku juga dia kalo dari kecil bakat bawel. Hahaha. Sori Ya, yang gua "nyet" bukan lu sebagai pribadi kok, ah, lu ngerti lah; gua paling gak suka diinget karena hal-hal yang cuma ascribed dan bukan hasil kemampuan gua.]

Masa itu sebenernya bingung juga antara mengakui atau menyangkal tuduhan Cina itu. Abis gak punya clue apa-apa selain tampang dan panggilan rumahan. Nyokap dan sodara-sodara juga bahkan sampe sekarang kalo ditanya orang selalu ngaku orang Jakarta, atau kalo nggak ya Jawa. Whatever yang penting lokal gitu lah, nggak pernah ngaku Cina. Lagian kita juga saking udah nggak tau apa-apa soal heritage Cina jadinya lebih ngerasa lokal. Satu-satunya yang ada kali cuma paipai-nya Kak Lia yang dilakukan secara jail dan serampangan tapi jadi menular kalau lagi Tahun Baru Cina. Jadinya, di dalam hati ya tetep aja kayak kata Erik, “kita olang Indonesia! Meldeka!” Ke sininya, I’m proud to be a Chinese descent karena kedalaman budayanya, tanpa menggeser proud afiliasi terhadap negeri Indonesia. Wo de aiguo zongshi jiao gei Yinni la!

Ketika kemudian kondisinya berbalik dari ditekan menjadi diwahkan, Tahun Baru Cina di rumah Oma for some sort jadi terasa agak lucu. Berhubung semua anaknya Oma pada di Jakarta, jadi sebenernya tumplek blek di rumah Oma juga bukan hal jarang. Apalagi rumahnya Oma di tengah kota, tempat rendezvous banget deh. Tapi urusan reunion lunch [iya, kita reunion lunch bukan reunion dinner] bisa jadi heboh sendiri gitu. Pernah suatu kali bisa ada acara minum oolong cha dan harus pake set poci+gelas Cina. Gimana nggak lucu kalau sampai harus berjuang belajar menjadi Cina, berjuang memenuhi ekspektasi sosial sebagai Cina yang adalah something ascribed.

In the end, di zaman fragmentasi identitas kayak sekarang, sebenernya yang penting adalah bisa nyaman dari diri sendiri dan nggak menghambat kenyamanan orang lain. Jangan sampai, deh, fragmentasi identitas kebawa ke hati. Kayaknya sih satu-satunya yang aku sebelin adalah kejadian lost my Chinese language ability yang dibawa dari Taipei ke sini when I was below 5 just because it’s Chinese. Salahkan sejarah: sial, kemampuan gua dirampok.





橄欖樹

24 01 2009

不要問我從哪裡來
我的故鄉在遠方
為什麼流浪,流浪遠方,流浪~

為了天空飛翔的小鳥
為了山澗清流的小溪
為了寬闊的草原,流浪遠方,流浪~

還有,還有
為了夢中的橄欖樹,橄欖樹
不要問我從哪裡來
我的故鄉在遠方~

為了我夢中的橄欖樹





depot migas kok dekat permukiman

19 01 2009

Semalam ada kebakaran besar di salah satu tangki penampungan Depo BBM Plumpang. Lidah api sempat dilaporkan mencapai ketinggian 100 meter [wah, setinggi gedung itu kan?] Posisi tangki yang terbakar berdekatan dengan permukiman warga dan jalan layang tol dalam kota, membuat banyak orang menjadi ketar-ketir khawatir kebakaran meluas; selain khawatir pasokan BBM Jabotabek mungkin akan terganggu.

Depo BBM Plumpang bukan satu-satunya depot migas yang berdekatan dengan permukiman. Sekitar 300 meter dari rumahku juga ada depot pengisian Elpiji milik Pertamina. Kalau Depo Plumpang masih di tepi jalan raya, depo Elpiji ini lebih parah; benar-benar berada di tengah permukiman, dengan akses jalan dua arah di depannya. Jalan tersebut hanya bisa memuat dua mobil besar plus motor, dan selalu rusak. Mungkin selain memang karena pengerasan jalan dan pembuatan saluran air/drainase tidak dikerjakan dengan baik oleh Pemkot Bekasi, jalan juga rusak karena kelebihan beban. Dengan lokasi depot pengisian Elpiji tersebut, truk Elpiji setiap hari berlalu-lalang di sana.

Melalui kejadian semalam, jelaslah bahwa lokasi depot migas yang berdekatan dengan permukiman sangat berbahaya. Heran, ketidakberfungsian Amdal bisa sampai separah itu.





yin dan yang

17 01 2009

Aku beranggapan bahwa relasi antara manusia dengan kehidupan berlangsung serupa Taijitu: Yin dan Yang. Sekuler antara “agama” dan “dunia”, namun tidak berarti menafikan salah satunya, malah membentuk harmoni di antara keduanya. Keduanya saling mengimbas satu sama lain, sebagaimana garis batas yang saling masuk mengisi dan bukannya garis lurus memisah. Di dalamnya ada titik yang mewakili tetap hadirnya secercah unsur “lawan”.

Dalam agama, porsi terbesar adalah habluminallah. Maka, urusan-urusan agama sesungguhnya sebatas urusan personal kita dengan Sang Maha. Aturan yang berlaku di sini tentu ajaran kitab suci dan para nabi. Walaupun demikian, dalam agama, tersuratlah arahan tentang hubungan kita dengan beragam makhluk.

Sedangkan, porsi terbesar dalam dunia adalah habluminalmakhluq. Maka, urusan-urusan dunia sejatinya adalah urusan kita dengan sesama makhluk semata. Aturan yang berlaku bukanlah lagi agama, melainkan etika dan hukum. Meskipun demikian, agama tetap diperbolehkan menjadi inspirasi dalam urusan-urusan dunia.

Tak bisalah keduanya dipisah-pisahkan. Lihat keseluruhannya, barulah ia ibadah.





我很快樂嗎?

17 01 2009

那快樂到底有什麼意義呢?
好多好多人會忘記吧~





about children

6 01 2009

Every child is a future spouse, a future parent, and they are all belong to the civilization wherever they live in. They ought to be nurtured and educated so they will be able to be a good spouse, a good parent; to function and fulfil whichever of their roles properly, and contribute only goodness wherever they are…





puisi Benigno Aquino kepada Cory

2 01 2009

Beromantis ria dulu ah.

Kali ini aku ingin menuliskan kembali lirik sebuah lagu dari Jose Mari Chan [kalau tahu penyanyi-penyanyi zaman lawas, pasti juga tahu penyanyi asal Filipina ini]. Judulnya, “I Have Fallen in Love (with the Same Woman Three Times)”. Lagu ini ada dalam album Constant Change (1989), dan menjadi lagu favoritku dalam album tersebut – melebihi lagu “Beautiful Girl” yang terkenal itu.

Di dalam album ditulis, lagu ini berasal dari puisi yang ditulis Benigno “Ninoy” Aquino Jr., tokoh penting dalam sejarah politik Filipina, saat dipenjarakan oleh rezim Ferdinand Marcos. Isinya tentang perempuan, spesifiknya: didedikasikan untuk Corazon “Cory”, istri Ninoy. Ninoy kemudian terbunuh di bandara Manila; peristiwa ini meledakkan gerakan People’s Power yang lalu menggulingkan rezim Marcos dan menggantikannya dengan Cory Aquino. Jose Mari Chan sendiri merilis lagu ini pada masa pemerintahan Cory Aquino.

Maaf kalau pemenggalan baris, bait, dan tanda bacanya agak kacau.

I Have Fallen in Love (with the Same Woman Three Times)

I have fallen in love
with the same woman three times
In a day spanning nineteen years
of tearful joys and joyful tears

I loved her first when she was young
Enchanting and vibrant, eternally new
She was brilliant, fragrant and cool
as the morning dew

I fell in love with her the second time
when first she bore her child and mine
She’s always by my side, the source of my strength
Helping to turn the tide

But there were candles to burn
The world was my concern
while our home was her domain,
And the people were mine
while the children were hers to maintain
So it was in those eighteen years and a day,
’till I was detained, forced in prison to stay
Suddenly she’s our sole support
source of comfort, our wellspring of hope
On her shoulders fell the burden of life

I fell in love again with the same woman the third time
Looming from the battle, her courage will never fade
Amidst the hardships she has remained undaunted and unafraid
She is calm and composed, she is God’s lovely maid.





hari ibu

22 12 2008

Hari ini 22 Desember, di Indonesia diperingati sebagai Hari Ibu. Sejarahnya, pada 22 Desember 1928 [berarti 80 tahun lalu], Kongres Wanita Indonesia I resmi dibuka. Kongres digelar menghimpun kekuatan gerakan perempuan sebagai bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan. Agendanya antara lain adalah perjuangan hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan. Kemudian, pada kongres ketiga, tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Ibu; dan pascakemerdekaan, Hari Ibu ditetapkan sebagai hari nasional [meski tak diliburkan].

Secara sejarah, sebenarnya hari nasional yang satu ini lebih tepat disebut sebagai Hari Perempuan ketimbang Hari Ibu. Ada pertanyaan yang timbul terkait hal ini: seperti apa konstelasi ideologis gerakan perempuan pada masa 1928? Bagaimana mereka memaknai konsep ibu sehingga kemudian memilih penyebutan “Hari Ibu” ketimbang “Hari Perempuan” atau “Hari Wanita”?

Yang jelas, tampaknya gerakan perempuan di Indonesia masa itu tidak memilih jalur ideologi feminisme radikal seperti yang menjadi arus utama gerakan perempuan di Indonesia masa sekarang [yang untuk banyak hal aku tidak sepakat dengan feminisme radikal ini].





tentang nama keluarga

1 12 2008

Penyusunan daftar nama dalam referensi harus dilakukan secara berhati-hati. Sebab, tidak seperti yang jamak ada dalam pikiran banyak orang, nama keluarga [surname] tidak selalu diletakkan setelah nama kecil. Ada banyak formulasi yang muncul, semuanya tergantung etnisitas/kebangsaan si penyandang nama. Walaupun demikian, dalam literatur internasional, biasanya susunan yang dipakai mengikuti kaidah Barat [Anglo-Saxon]: nama keluarga setelah nama kecil. Ini adalah beberapa contoh yang kudapatkan tentang format asli nama-nama yang berasal dari berbagai bangsa.

Nama Asia Timur [Cina, Jepang, Korea, Vietnam]
Nama keluarga dalam susunan aslinya diletakkan di awal. Nama kecil [dan juga nama keluarga yang lebih dari satu silabel] di Cina daratan disambung, di Taiwan biasanya menggunakan tanda hubung, sisanya tak tentu. Contohnya:

  • Hong Ying-dan, marga Hong. Oya, ini nama Mandarinku.
  • Ojong Peng Koan, marga Ojong [Hokkian, Ouyang dalam bahasa Mandarin]. Ini nama lengkap pendiri koran Kompas P.K. Ojong.
  • Yap Thiam Hien, marga Yap [kalau tidak salah, Ye dalam Mandarin].
  • Soe Hok Gie, marga Soe [Hokkian, juga Su dalam Mandarin].
  • Kwik Kian Gie, marga Kwik [Hokkian, Guo dalam Mandarin].
  • Goh Chok Tong, marga Goh [Wu dalam bahasa Mandarin].
  • Hu Jintao, marga Hu.
  • Fukuyama Yoshihiro, keluarga Fukuyama. Ini nama asli Francis Fukuyama.
  • Utada Hikaru, keluarga Utada.
  • Ban Ki-moon, marga Ban [Pan dalam bahasa Mandarin].
  • Hwang Ji Eun, kenalan, marga Hwang [Huang dalam bahasa Mandarin].
  • Pham Tuyet Hanh, teman, marga Pham [Fan dalam bahasa Mandarin]. Karena lahir dan besar di Belanda, dalam dokumen-dokumen menjadi Tuyet Hanh Pham.

Nama keluarga Cina, Korea, dan Vietnam yang umum bisa dicari di Wikipedia. Orang Asia Timur juga sering mengadopsi nama alias dalam bahasa selain Asia Timur. Yang repot, kalau menjadi seperti ini:

  • Stella Ting-Toomey; karena nama Mandarinnya [dalam Hanyu Pinyin] adalah Ding Tu Mi, dan kemudian juga mengadopsi nama Barat Stella. Umumnya orang memakai Stella Ting atau Toomey Ting. Apa sebaiknya ditulis sebagai “Ting-Toomey, Stella”?
  • Young Yun Kim. Ini membingungkan apakah telah mengikuti kaidah Anglo-Saxon atau belum. Nama keluarganya Young atau Kim? Setelah dicari-cari, ditemukan bahwa yang benar adalah Kim [dan memang marga Kim lebih umum ditemukan].

Nama Eropa Timur

Saya masih kurang jelas tentang ketentuan peletakan nama keluarga; sepertinya tidak ketat, biasanya di akhir untuk dokumen dan di awal bila memerlukan pengurutan nama. Ciri khas nama keluarga di bekas Soviet Raya seringkali mengandung akhiran -ov, -ev, -in, -skiy/-sky, -iy [untuk laki-laki]; -ova, -ovna, -eva, -ina, -skaya, -ya [untuk perempuan]; -enko, -ko, -uk, -ych [Ukraina]. Nama Rusia juga menggunakan nama patronimik di samping nama keluarga, yang bila digunakan selalu diletakkan setelah nama kecil.

  • Kornusov Erendzhen, Rusia, laki-laki, panggilannya Erik [dari Erendzhen].
  • Kurnikov German Germanovich, Rusia, laki-laki, nama keluarganya Kurnikov.
  • Natalia Haneyeva, Belarus, perempuan, nama keluarganya Haneyeva.
  • Oxana Skalnaya, Rusia, perempuan.
  • Oxana Kozhuhar, Rusia, perempuan.
  • Vladimir Lenin.
  • Babarikova Lenka, Slovakia, perempuan, nama kecilnya Lenka.
  • Mangu Zsuzsanna, Hungaria, perempuan, biasa dipanggil Zsuzsi.

Nama Spanyol [dan bekas koloni Spanyol]
Nama keluarga terdiri atas nama keluarga bapak dan nama keluarga ibu sekaligus. Untuk literatur ilmiah internasional, biasanya diberi tanda hubung atau bisa juga nama keluarga ibu dibuang.

  • Gabriel José de la Concordia García Márquez, novelis Kolombia. Bapaknya Gabriel García [blablabla] dan ibunya Luisa Márquez [blablabla]. Dalam referensi, seharusnya minimal menjadi “García Márquez, Gabriel” atau “García, Gabriel”.
  • Luz María Martínez Rojas, Meksiko, teman. Biasanya menulis nama diri sebagai “Luz María Martínez” saja. Rojas berasal dari nama keluarga ibu.
  • Yuichi Murakami-Coronado, kenalan. Bapaknya Jepang, ibunya Meksiko, kalau tak salah lahir di Meksiko.
  • Manuel Ortigoz y Guerra [ada nggak sih?] Partikel “y”, “e”, atau “i” berarti “dan”, menandakan penghubungan nama keluarga bapak dan ibu.




bukan tari saman

1 12 2008

Ini tentang tari duduk asal Aceh yang biasa dibawakan perempuan secara kolosal. Sumbernya dari sini.

Syair dan pantun sering diperdengarkan di meunasah-meunasah. Selain dua hal itu, Marzuki kecil menyaksikan perkembangan cikal bakal tari duduk dari kampungnya yang bernama tari Rateb Meuseukat. Rateb Meuseukat ini merupakan nama yang benar untuk tari Saman. Nama tari Saman sudah salah kaprah karena sebenarnya hanya untuk menyebut tarian yang dibawakan laki-laki. “Kalau dibawakan perempuan bernama Rateb Meuseukat,” ujar Pak Uki, panggilan Marzuki.