Barusan baca post ini di salah satu blognya Teteh. Kisahnya persis sebagaimana yang selama ini kureka-reka dari apa yang kudengar, walaupun tentu saja jauh lebih lengkap [tapi tetap masih banyak bolongnya juga sih]. Menyentuh dan sarat hikmah, bahkan semenjak baru sekedar reka ulang olehku yang tak sempat bertemu.
Ingatanku melayang jatuh pada gambar sang Bunda yang pernah kulihat sekelebat. Pas foto 3×4, latar biru muda. Rambut tergerai, kurus tirus, kacamata bingkai besar. Kesanku: tegas, keras, sangat mandiri, tahu persis apa yang dimau. Intelek. Elegan, anggun, ramah, seru. Mempesona, sungguh mempesona. Bisik hatiku, aku ingin sekuat, sehebat orang ini. Barangkali lima detik ia di sela jemariku, sebelum tergantikan sesaat oleh foto lama sang putra yang bahkan tak sempat kulihat.
Lalu si teteh, berbulan setelahnya. Déjà vu. Entah pernah bertemu di mana.
Seorang ayah, lahir 1926. Seorang bunda, lahir 1943. Melahirkan dewi bulan yang beradik matahari. Kian hari, terasa olehku kian dekat… kian terasa menyublim pada diriku.