Dua hari menjelang Chunjie, kelas Mandarin masuk seperti biasa. Akan tetapi, ada satu hal yang tak biasa: ada aura Chunjie pada pakaian yang dikenakan.
Seorang rekan bertanya pada Mbak Chichi tentang aksara-aksara yang menjadi motif blusnya hari itu. Dijawabnya, ini huruf Cina kuna, biasa dipakai untuk cap nama sampai sekarang. Huruf cap ada dazhuan ada xiaozhuan, akan tetapi, sekarang tak semua orang bisa membacanya.
Ia lantas bercerita tentang cap nama dan kedudukannya sebagai segel yang secara legal setara dengan tanda tangan di dunia Barat. Ia juga memaparkan beragam peruntukannya mulai dari segel pribadi hingga segel kenegaraan. Ia pun menggambar contoh segel pribadi, yang kucurigai sebagai namanya sendiri, dan menjelaskan susunan isinya yang terdiri atas marga dan nama. Kemudian, ia bercerita tentang pengukiran segel yang biasa dilakukan secara manual.
Dua pekan kemudian, salah satu dari rekan HI yang baru pulang dari kegiatan Model UN di Singapura menunjukkan cap nama yang dibuatnya di sana. Cap nama tersebut berbahan batuan dengan ukiran di kepalanya, ditulis dengan menggunakan jiantizi. Barangkali itu pertama kalinya rekan-rekan di kelas melihat cap nama. Semua orang bergerak melihatnya, termasuk Mbak Chichi dan aku yang jadi mempelajari nama, batuan, dan ukiran di kepala cap. Material yang indah, berukiran pula, pasti mahal.
Beberapa hari kemudian, aku bertemu Anita, adik kelasku sejurusan, di FISIP. Sebelumnya, ia tertarik melihat cap namaku tertera di buku yang dipinjam Ayu, dan jadi minta dibuatkan. Entah pula di mana bisa membuat cap nama, tapi setidaknya kubuatkan dulu lah nama Cinanya. Kutuliskan namanya, Xiao Gui-an: kedamaian yang berharga, walau kadang kupelesetkan jadi ketenangan yang mahal. Sedikit khawatir nama tersebut terlalu berat bagi perempuan, tapi tak apalah, kupikir nama yang tadi itu netral. Saat menuliskan nama, Anita sedang bersama Dhacil, temannya yang juga adalah rekan sekelas Mandarinku. Iseng-iseng kukatakan pada Dhacil untuk juga membuat nama Cina. Belakangan, kupikir bagus juga memberikan nama Qiu Mei-ying untuknya: kilau yang indah.
Belum kesampaian menyampaikan ke Dhacil, eh Ace’ juga kepingin punya cap nama dan memintaku membuatkan nama. Tapi permintaannya banyak juga ya, harus ada unsur cantik, pintar, blablabla. Aih pusing…
Kalau kata Kak Devi dan Ajeng, sekalian saja buka jasa pembuatan nama. Hahahaha.



iya tan, sklian buka jasa pembuatan nama..
gw aja nyerah kl disuruh bikin nama..
syusyah