perseteruan Cina Daratan dan Taiwan di kelas orang Indonesia

7 02 2009

Waktu akhirnya berhasil mengumpulkan revisi skripsi dan lolos dari lubang jarum kelulusan, hal pertama yang kulakukan adalah mendaftarkan diri untuk kelanjutan pembelajaran bahasa Mandarin. Kembali lagi ke kursus di FIB, kembali lagi ke level yang seharusnya dulu kumasuki kalau saja tidak melanglang buana ke Taiwan segala dan tetap belajar di situ. Aku sebenarnya tahu kalau di level tersebut yang akan kudapatkan adalah pelajaran persis sebagaimana yang kupelajari di Taipei, tapi berhubung nggak diizinkan ikut tes penempatan ulang jadinya kembali ke level itu. Yah, hitung-hitung review; toh selama setahun ini nyaris tak bicara Mandarin dan tak pernah pula menulis aksara Cina sederhana, jadi banyak juga yang lupa.

Kursus yang semula kuikuti di Salemba kuartal ini kuikuti di Depok. Pemikirannya, Depok bisa lebih cepat dijangkau dari tempat tinggal sekarang. Masuk ke lingkungan baru, kebiasaan baru, dan bertemu orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kutemukan di Salemba. Tentunya sejarah pembelajaran bahasa Mandarinku juga menjadi tersembunyi. Baru setelah dua-tiga pertemuan, lewat tugas dan aktivitas kelas, kemampuan bahasa Mandarinku mulai dicurigai baik oleh Kak Bayu maupun Mbak Chichi – yang secara bergantian mengajar di kelas. Biasanya, teman-teman sekelas yang lantas membocorkan urusan Taiwan tadi. Kuperhatikan, reaksi kedua pengajar tersebut termasuk menarik apalagi kalau mengingat juga latar belakang masing-masing.

Kak Bayu, yang mengajar sesi pagi, punya pengalaman belajar bahasa di Beijing dan sedari awal terlihat mempunyai ketertarikan besar terhadap aspek sosial serta sejarah masyarakat Cina, sampai-sampai terkadang lebih hafal fantizi. Hari ini begitu membagikan tugas latihan menulis dan menyampaikan tugas yang sudah dinilai Mbak Chichi, ia secara lisan mengomentari tulisanku; dan pria-pria kelas pun spontan nyeletuk kalau aku pernah ke Taiwan. Setelah interogasi soal kepergian ke Taipei waktu itu, komentar pertamanya [dan paling menonjol] adalah

Taiwan itu… oportunis! [hahaha, bagian ini aku juga terbahak, karena pasti topiknya sejarah; benar saja] Dulu itu kan Chiang Kai-shek bisa kalah dari Komunis karena itu, terus korup juga. Makanya rakyatnya pada nggak ngedukung. Rampok, itu. Dulu waktu Kaisar terakhir jatuh kan barang-barang di Kota Terlarang pada diambilin sama Nasionalis. Begitu mundur ke Taiwan, barang-barangnya dibawa semua pakai kapal ke Taiwan. Jadinya, sekarang barang-barang yang asli dipajangnya di Taiwan semua; Kota Terlarang yang di Cina isinya replika-replika doang. Paling tahta kerajaannya aja yang masih asli….

Lain lagi Mbak Chichi. Pengajar sesi siang ini pernahnya ke Taiwan, belajar bahasa juga. Agak lupa bagaimana asal-muasalnya, mungkin terkait tugas pekan lalu, Mbak Chichi tadi juga bertanya, “Intan, kamu sebelum di PPB udah pernah belajar Mandarin?” Lagi-lagi, begitu kujawab dengan agak ngeles-ngeles, ada yang nyeletuk kalau aku pernah belajar di Taiwan. Setelah interogasi, Mbak Chichi juga komentar

Saya belum pernah ke Cina Daratan; tapi percaya deh, Taiwan jaaaaaaaaaaauh lebih enak dibanding Cina Daratan. Lebih bersih, lebih teratur, lebih rapi. Kalau di Cina Daratan, toiletnya itu lho, tau nggak? Itu karena sekatnya rendah, jadi bisa liat-liatan kanan-kiri, terus nanti yang dari sebelah-sebelah lewat deh di bawah. Padahal itu pertokoan besar lho. Belum lagi kalau di restoran, jorok! Orang itu kapanpun di manapun hak-cuih ya hak-cuih aja, di restoran juga, mau ada orang makan di sebelah juga. Waktu Olimpiade kan orang-orang dari luar Beijing nggak boleh masuk Beijing, takut kebiasaan-kebiasaan yang kayak gitu tetap dibawa. Dan itu benar-benar di-sweeping ke rumah-rumah. Mau saudaranya yang punya rumah juga tetap aja nggak boleh. Orang Taiwan juga lebih terbuka sama orang asing….

Poinku adalah bahwa masing-masing dari mereka punya medan pengalaman [field of experience] yang berbeda. Satu lebih berpengalaman dengan Daratan, satu lagi dengan Taiwan. Perhatikan deh bagaimana primacy yang terjadi, sekaligus juga [mungkin] stereotipe yang terbentuk oleh penularan persepsi dari orang-orang setempat ketika Daratan dan Taiwan dipersandingkan dan diperbandingkan.


Actions

Information

2 responses

8 02 2009
Ajeng

biasanya sih, dalam konteks belajar bahasa, tempat tujuan menentukan jiwa patriotisme dan nasionalismenya..
halah..
hehehhe

yang jelas, kita udah tau kalo kita berdua mindednya kemana lah ya bu.. hihihihi

8 02 2009
intan

Gak segitu nasionalisme dan patriotismenya sih, Jeng. Karena kalau ngomong aiguo, wo xiangxin tamen [ye women] de aiguo haishi jiao gei Yinni de. Tapi emang, ketika milih, kemungkinan besar emang ada pertimbangan mengapa yang ini dan bukan yang itu. Tentang field of experience, intinya adalah ketika seseorang lebih banyak terlibat dengan suatu hal dan bukan yang lainnya, maka dia akan terus merasa lebih dekat dengan yang satunya dan bukan yang lainnya itu… Misalnya aja, gue lebih berpengalaman dengan Taipei: lahir di Taipei, sempet bolak-balik ke Taipei pula; jadilah gue merasa Taipei lebih dekat di hati. Terusnya, jadi ada semacam pembenaran di diri gue kalo fantizi lebih berguna dalam memahami alam pikir orang Cina lah, kalo secara kultural Cina di Indonesia lebih bertalian dengan nanfang ketimbang beifang lah, apa lah apa lah… begitchu!

Leave a comment